Minggu, 19 November 2017

Softskill Audit Teknologi Sistem Informasi: Pertemuan 2


TAHAPAN PROSES AUDIT
Menurut Rob Reider yang dialihbahasakan oleh Agoes dan Hoesada (2009: 146), tahapan audit operasional terdiri atas:
1. Tahap perencanaan (planning)
Tujuan dari tahap ini adalah mengumpulkan informasi tentang bidang operasi, mengidentifikasi kemungkinan adanya masalah dalam bidang operasi tersebut, serta sebagai titik awal untuk mengembangkan dasar program kerja audit operasional.

2. Tahap program kerja (work programs)
Tahap program kerja menguraikan secara terperinci apa yang harus dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan sehingga dapat diperoleh suatu temuan pemeriksaan dan memberikan rekomendasi perbaikan.

3. Tahap pelaksanaan kerja lapangan (field work)
Tahap ini merupakan tahap dimana langkah – langkah kerja yang telah ditentukan dalam program kerja dilaksanakan atau direalisasikan. Pada tahap ini, auditor harus mengumpulkan serta menganalisis bukti – bukti atau informasi yang cukup untuk mendukung dan menyajikan temuan pemeriksaan.

4. Tahap pengembangan temuan audit dan rekomendasi (development of findings and recomendations)
Selama pelaksanaan kerja lapangan, auditor mungkin menemukan dan mengidentifikasi kekurangan (deficiency) yang secara keseluruhan dapat mempengaruhi jalannya perusahaan. Auditor harus mengembangkan unsur-unsur temuan audit untuk meyakinkan manajemen bahwa terdapat kekurangan atau penyimpangan sehingga perlu dilakukan tindakan koreksi sesegera mungkin.

5. Tahap pelaporan (reporting)
Tahap pelaporan merupakan tahap akhir dari kegiatan pemeriksaaan. Laporan tersebut bertujuan memberikan informasi yang bermanfaat dan tepat waktu atas kekurangan yang berpengaruh terhadap kegiatan operasi perusahaan dan merekomendasikan perbaikan. Laporan pemeriksaan juga berguna untuk mengomunikasikan hasil dari pemeriksaan kepada pemimpin.

JENIS AUDIT
1. Operational audit, terkonsen pada efisiensi dan efectifitas dengan semua sumberdaya yang digunakan untuk melaksanakan tugas, cakupanya meliputi kesesuaian praktik dan prosedur dengan peraturan yang ditetapkan.
2. Compliance audit terkonsentrasi pada cakupan undang-undang, peraturan pemerintah, pengendalian dan kewajiban badan eksternal lain yang telah diikut.
3. Project manajement and change control audit,(dulu dikenal sebagai suatu pengembangan sistem audit) terkonsentrasi oleh efesiensi dan efektifitas pada berbagai tahap pengembangan sistem siklus kehidupan yang sedang diselenggarakan.
4. Internal control audit terkonsentrasi pada evaluasi struktur pengendalian internal.
5. Financial audit terkonsentrasi pada kewajaran laporan keuangan yang menunjukan posisi keuangan, aliran kas dan hasil kinerja perusahaan.
6. Fraud audit adalah nonrecurring audit yang dilaksanakan untuk mengumpulkan bukti untuk menentukan apakah sedang terjadi, telah terjadi atau akan terjadi kecurangan. Dan penyelesaian hal sesuai dengan pemberian tanggungjawab.

RESIKO AUDIT
1. Risiko bawaan (Inherent risk) merupakan kerentanan asersi terhadap salah saji (misstatement) yang material, dengan mengasumsikan bahwa tidak ada pengendalian yang berhubungan. Risiko salah saji (misstatement) seperti itu lebih besar dalam beberapa asersi laporan keuangan dan saldo-saldo atau pengelompokan yang berhubungan daripada yang lainnya. Risiko ini dipertimbangkan pada tahap perencanaan audit. Sebagai contoh, perhitungan yang rumit lebih mungkin disajikan salah jika dibandingkan dengan perhitungan yang sederhana. Akun yang terdiri dari jumlah yang berasal estimasi akuntansi cenderung mengandung risiko lebih besar dibandingkan dengan akun yang sifatnya relatif rutin dan berisi data berupa fakta.

2. Risiko Pengendalian (Control Risk) merupakan risiko bahwa suatu salah saji yang material yang akan terjadi dalam asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian perusahaan. Risiko ini merupakan fungsi keefektifan perancangan dan operasi pengendalian internal dalam mencapai tujuan entitas yang relevan untuk menyusun laporan keuangan entitas. Beberapa risiko pengendalian akan selalu ada karena keterbatasan yang melekat pada pengendalian internal.

3. Risiko Deteksi (Detection Risk) merupakan risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah saji yang material dalam suatu perusahaan. Risiko ini merupakan fungsi keefektifan prosedur audit dan aplikasinya oleh auditor. Hal ini sebagian muncul dari ketidakpastian yang ada ketika auditor tidak memeriksa semua saldo akun atau kelompok transaksi untuk mengumpulkan bukti tentang asersi lainnya.

TATA KELOLA TI 
Tata Kelola TI adalah suatu cabang dari tata kelola perusahaan yang terfokus pada sistem teknologi informasi (TI) serta manajemen kinerja dan resikonya.


KERANGKA TATA KELOLA TI 
1. Information Technology Infrastructure Library (ITIL) (Davies, 2003)
2. ISO 17799 (ISO, 2005)
3. Control Objectives for Information and related Technology) (COBIT) (ISACA, COBIT 4.1,2007).


AUDIT TATA KELOLA TI
Audit Tata Kelola TI adalah evaluasi terhadap suatu cabang dari tata kelola perusahaan yang terfokus pada sistem teknologi informasi (TI) serta manajemen kinerja dan resikonya.
 

Referensi:
lugcool.blogspot.com/2015/07/tahap-tahap-dalam-audit-operasional.html
https://intankirana19.wordpress.com/2017/10/09/kasus-audit-it-perbankan-dan-solusi/
https://hanggaryudha.wordpress.com/2012/11/06/risiko-audit/
https://id.wikipedia.org/wiki/Tata_kelola_teknologi_informasi
http://maulanapramudya.blogspot.co.id/2017/11/proses-audit-si-jenis-dan-risiko-audit.html 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar