Senin, 28 Desember 2015
Soft Skill - Teori Organisasi Umum 2 : Budaya, Kreativitas, dan Inovasi
PENGERTIAN DAN FUNGSI BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini adalah sekumpulan karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi.
Adapun pengertian Budaya Organisasi menurut beberapa ahli, yaitu :
1.Menurut Wood, Wallace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, Osborn (2001:391), budaya organisasi adalah sistem yang dipercayai dan nilai yang dikembangkan oleh organisasi dimana hal itu menuntun perilaku dari anggota organisasi itu sendiri.
2.Menurut Tosi, Rizzo, Carroll seperti yang dikutip oleh Munandar (2001:263), budaya organisasi adalah cara-cara berpikir, berperasaan dan bereaksi berdasarkan pola-pola tertentu yang ada dalam organisasi atau yang ada pada bagian-bagian organisasi.
3.Menurut Robbins (1996:289), budaya organisasi adalah suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu.
FUNGSI BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi memiliki fungsi yang sangat penting. Fungsi budaya organisasi adalah sebagai tapal batas tingkah laku individu yang ada didalamnya.
Menurut Robbins (1996 : 294), fungsi budaya organisasi sebagai berikut :
1.Budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain.
2.Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
3.Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual seseorang.
4.Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan.
5.Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan.
TIPOLOGI BUDAYA ORGANISASI
Menurut Sonnenfeld dari Universitas Emory (Robbins, 1996 :290-291), ada empat tipe budaya organisasi :
1. Akademi
Perusahaan suka merekrut para lulusan muda universitas, memberi mereka pelatihan istimewa, dan kemudian mengoperasikan mereka dalam suatu fungsi yang khusus. Perusahaan lebih menyukai karyawan yang lebih cermat, teliti, dan mendetail dalam menghadapi dan memecahkan suatu masalah.
2. Kelab
Perusahaan lebih condong ke arah orientasi orang dan orientasi tim dimana perusahaan memberi nilai tinggi pada karyawan yang dapat menyesuaikan diri dalam sistem organisasi. Perusahaan juga menyukai karyawan yang setia dan mempunyai komitmen yang tinggi serta mengutamakan kerja sama tim.
3. Tim Bisbol
Perusahaan berorientasi bagi para pengambil resiko dan inovator, perusahaan juga berorientasi pada hasil yang dicapai oleh karyawan, perusahaan juga lebih menyukai karyawan yang agresif. Perusahaan cenderung untuk mencari orang-orang berbakat dari segala usia dan pengalaman, perusahaan juga menawarkan insentif finansial yang sangat besar dan kebebasan besar bagi mereka yang sangat berprestasi.
4. Benteng
Perusahaan condong untuk mempertahankan budaya yang sudah baik. Menurut Sonnenfield banyak perusahaan tidak dapat dengan rapi dikategorikan dalam salah satu dari empat kategori karena merek memiliki suatu paduan budaya atau karena perusahaan berada dalam masa peralihan.
KREATIVITAS INDIVIDU DAN TEAM PROSES INOVASI
Kreativitas dengan inovasi itu berbeda. Kreativitas merupakan pikiran untuk menciptakan sesuatu yang baru, sedangkan inovasi adalah melakukan sesuatu yang baru. Hubungan keduanya jelas. Inovasi merupakan aplikasi praktis dari kreativitas. Dengan kata lain, kreativitas bisa merupakan variabel bebas, sedangkan inovasi adalah variabel tak bebas. Dalam praktek bisnis sehari-hari, ada perencanaan yang meliputi strategi, taktik, dan eksekusi. Dalam pitching konsultansi atau agency, sering terdengar keluhan bahwa secara konseptual apa yang disodorkan agency bagus, tetapi strategi itu tak berdampak pada perusahaan karena mandek di tingkat eksekusi. Mengapa? Sebab, strategi bisa ditentukan oleh seseorang, tetapi eksekusinya harus melibatkan banyak orang, mulai dari atasan hingga bawahan. Di sinilah mulai ada gesekan antarkaryawan, beda persepsi hingga ke sikap penentangan.
Itu sebabnya, tak ada perusahaan yang mampu berinovasi secara konsisten tanpa dukungan karyawan yang bisa memenuhi tuntutan persaingan. Hasil pengamatan kami menunjukkan, perusahaan-perusahaan inovator sangat memperhatikan masalah pelatihan karyawan, pemberdayaan, dan juga sistem reward untuk meng-create daya pegas inovasi. Benih-benih inovasi akan tumbuh baik pada perusahaan-perusahaan yang selalu menstimulasi karyawan, dan mendorong ke arah ide-ide bagus. Melalui program pelatihan, sistem reward, dan komunikasi, perusahaan terus berusaha untuk mendemokratisasikan inovasi.
Referensi:
http://megalestarie.blogspot.com/2011/08/konflik-desain-budaya-organisasi.html
http://zhaxiann.blogspot.com/2013/04/budaya-kreativitas-dan-inovasi.html
https://duniatugasasri.wordpress.com/2013/06/11/fungsi-budaya-organisasi
Soft Skill - Teori Organisasi Umum 2 : Perubahan dan Pengembangan Organisasi
PENGERTIAN
PERUBAHAN DAN PENGEMBANGAN ORGANISASI
Perubahan
organisasi adalah kegiatan episodic, artinya perubahan dimulai pada
satu titik, berlanjut melalui serangkaian tahap, dan mencapai puncaka
dalam hasil yang diharapkan oleh mereka yang terlibat berupa
perbaikan dari titik awal. Perubahan memiliki permulaan, pertengahan
dan akhir. Perubahan organisasi atau pembaharuan organisasi
(organizational change) didefinisikan sebagai pengadopsian ide-ide
atau perilaku baru oleh sebuah organisasi. Organisasi dirancang untuk
beradaptasi dengan peruabahan lingkungan melalui pembaharuan dan
pengembangan internal. Perubahan organisasi dicirikan dengan berbagai
usaha penyesuaian-penyesuaian disain organisasi di waktu mendatang.
Pengelolaan perubahan secara efektif tidak hanya diperlukan bagi
kelangsungan hidup organisasi, tetapi juga sebagai tantangan
pengembangan. Dalam pengertian lain perubahan organisasi merupakan
proses penyesuaian desain organisasi terhadap kondisi lingkungan yang
dihadapi. Perubahan dapat bersifat reaktif dan proaktif
Pengembangan
organisasi adalah suatu perspektif tentang perubahan sosial yang
direncanakan dan yang dibina. Hal ini menyangkut inovasi yang
menyiratkan perubahan kualitatif dalam norma, pola perilaku dalam
hubungan perorangan dan hubungan kelompok dalam persepsi tujuan
maupun metode. Pengembangan organisasi dapat dirumuskan sebagai
perencanaan, penataan dan bimbingan dari organisasi baru atau yang
disusun kembali; (a) yang mewujudkan perubahan dalam nilai-nilai,
teknologi fisik dan atau sosial, (b). Menetapkan, mengembangkan dan
melindungi hubungan-hubungan normatif dan pola-pola tindakan yang
baru, dan (c). Memperoleh dukungan dan kelengkapan dalam lingkungan
tersebut.
Secara
ringkas pengembangan organisasi mencakup juga penyusunan kembali
struktur organisasi, dan berkaitan dengan keseluruhan faktor yang
mempengaruhi tugas dan fungsi seluruh organisasi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi perubahan organisasi atau mempengaruhi desain organisasi
adalah faktor lingkungan eskternal dan internal organisasi.
LANGKAH-LANGKAH
PERUBAHAN ORGANISASI
Berikut
adalah 8 Langkah Perubahan / Transformasi Organisasi yang disampaikan
oleh Kotter yang dikenal dengan Kotter’s 8 Steps Changes Model :
1.
Incease Urgency, Menumbuhkan ‘sense of urgency’ dimana
setiap orang akan merasa terdorong untuk segera melakukan perubahan
yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan jika ditemukannya alasan /
faktor yang benar-benar kuat mengapa perubahan perlu dilakukan. Untuk
itu perlu ditunjukkan fakta/ data yang dapat dilihat, dirasakan,
disentuh agar orang-orang mau dan merasa perlu untuk berubah. Jika
orang tidak melihat adanya data / fakta bahwa mereka harus berubah
maka yang terjadi adalah orang-orang tidak akan mau berubah. Mereka
akan tetap berada di zona nyaman karena mereka merasa tidak ada
alasan yang kuat untuk berubah. Harus ada rasa ‘keterdesakan’
yang bisa dilihat selain oleh pemimpin juga oleh orang yang
dipimpinnya.
2.
Build The Guiding team, membantu pembentukan kelompok yang akan
memandu proses perubahan (change agents) yang mempunyai
kapabilitas yang memadai baik dari sisi anggota kelompok maupun
metode pelaksanaannya. Untuk berubah diperlukan orang-orang yang
yakin bahwa perubahan akan mengarah ke arah yang lebih baik. Karena
itu perlu dibentuk kelompok yang tugasnya menunjukkan antusiasme,
komitmen, kepercayaan bahwa dengan perubahan yang akan dilakukan akan
menghasilkan hasil yang lebih baik. Mereka inilah agen-agen perubahan
yang akan mendorong orang-orang disekitarnya untuk mendukung jalannya
perubahan. Karena itu perlu dilakukan komunikasi yang rutin dengan
para agen ini agar memantapkan tujuan perubahan, saling mendukung dan
meminimalisir rasa frustasi yang mungkin timbul.
3.
Get The Right Vision Visi yang sudah ada harus diterjemahkan
dalam bentuk strategi yang menantang untuk dilaksanakan. Tanpa visi
yang jelas, tidak akan ada yang mau mengikuti arah perubahan yang
diusung, kalau pun ada, di tengah jalan mereka akan kehilangan arah.
Visi ini harus dapat dipilah-pilah dalam time frame yang jelas,
apakah tahunan, semesteran, atau triwulan serta dengan melihat pula
kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan. Dengan demikian
setiap orang akan dapat melihat arah yang jelas mengenai
tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam bentuk implementasi
sehari-hari.
4.
Communicating for Buy In Visi dan strategi yang disampaikan harus
komunikasikan sehingga terjadi kesamaan dan pemahaman yang baik serta
dapat diterima di seluruh jajaran. Visi yang baik harus terkomunikasi
dengan jelas dan terarah. Dan yang penting adalah bentuknya tulus,
sederhana, tidak rumit serta memberikan contoh nyata (role model)
akan visi yang sudah diaplikasikan. Perbaikilah saluran-saluran
komunikasi yang digunakan sehingga pesan-pesan yang tidak perlu dapat
dieliminir. Dan dapat pula digunakan teknologi untuk membantu
mempercepat proses komunikasi (situs resmi, internal email blast,
dll). Komunikasi yang baik dapat dilakukan dengan cara: content
(metaphor, analogy, simplicity, stories, etc) & context
(repetition, multiple forums, role model, events, etc)
5.
Empower Action, mengatasi secara efektif rintangan-rintangan yang
timbul yang dapat memantapkan pengalaman dalam mengelola perubahan
sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri. Selain itu perlu juga
dukungan dalam bentuk alat-alat (resources) yang memadai agar semua
orang dapat bertindak untuk mencapai visi. Termasuk pula adalah
dorongan agar team mampu keluar dari pola pikir standar dan dapat
‘keluar’ mengambil langkah-langkah terobosan yang belum pernah
dilakukan sebelumnya.
6.
Create Short Term Win Meraih kemenangan-kemenangan kecil /jangka
pendek. Karena perubahan pada umumnya tidak dapat dicapai dalam tempo
yang singkat maka dibutuhkanlah milestone-milestone kecil untuk
memberi tanda sudah sampai dimana proses perubahan yang dijalankan.
Karena itu dibutuhkanlah perayaan-perayaan kecil (short term wins)
dalam bentuk pemberian penghargaan agar semangat para pengusung
roda perubahan ini dapat terus dijaga agar tidak redup. Adalah perlu
untuk terus mengupayakan agar semangat para pendukung perubahan ini
tetap menyala karena proses perubahan menuntut stamina fisik &
mental dalam waktu yang panjang. Selain itu, short term wins ini juga
memberi isyarat kepada mereka yang belum ‘bergabung’ untuk dapat
bergabung karena inilah ‘jalan’ yang ‘benar’. Akan jauh lebih
baik jika ‘perayaan’ meraih kemenangan kecil ini dilakukan dalam
exposure yang luas sehingga ada banyak orang yang menyaksikan
sehingga pada penerima penghargaan ini dapat lebih percaya diri,
mantap dan semakin yakin akan arah yang di tuju.
7.
Don’t Let Up Jangan berhenti, lanjutkan terus proses perubahan
sebelum visi terwujud. Lakukan terus upaya untuk meningkatkan sense
of urgency sehingga nyala api perubahan tidak redup di tengah jalan.
Selalu tunjukkanlah bahwa proses perubahan ini masih akan berlanjut
sapai tercapainya visi yang dicanangkan. Tetapi, haruslah dicatat
bahwa proses ini jangan sampai membuat kondisi fisik dan emosi
terganggu dan mengorbankan kepentingan pribadi, karena dalam jangka
panjang jika ini terjadi, yang mendapatkan imbasnya adalah proses
perubahan itu sendiri. Gunakanlah momentum-momentum, seperti misalnya
pada perayaan hari jadi perusahaan / peringatan hari besar sebagai
alat bantu untuk mengkomunikasikan bahwa perubahan belum selesai.
Lakukanlah -jika perlu- perubahan sistem, struktur,
kebijakan-kebijakan, prosedur hingga kultur organisasi sehingga
sesuai dengan kondisi yang diinginkan.
8.
Make change stick Pastikanlah agar perubahan tertanam sebagai
budaya perusahaan sehingga perubahan benar-benar mengakar sampai ke
struktur organisasi yang paling bawah. John P. Kotter mengingatkan,
bila satu saja tahapan itu dilewati, maka kita hanya akan
menghasilkan apa yang disebutnya sebagai “illusion of speed”
(kecepatan maya) yang dapat menghasilkan perubahan yang tidak
sempurna.
PERENCAAN STRATEGI PENGEMBANGAN ORGANISASI
Beberapa
hal yang harus diperhatikan dalam Perencanaan Strategi dan
Pengembangan Organisasi:
1. Pengamatan eksternal
Yaitu
dengan memperhatikan kesempatan dan ancaman di segala aspek, baik
ekonomi, politik, teknologi, budaya dan lainnya yang semua variable
itu akan membentuk karakter organisasi. Metode ini sesuai dengan yang
dinyatakan oleh Wayne E. Rosing, wakil Direktur pengembangan Sun
Microsystems, Inc ” Tidak ada satupun yang memotivasi Sun kecuali
ketakutan akan apa yang dilakukan oleh pesaing ”.
-
Pengamatan internal
Terdiri
dari eavaluasi SDM dan struktur organisasi, dengan tujuan mengukur
kesiapan SDM (inputs) strategi sekarang (proses), kinerja (outputs)
dan potensi dalam yang akan membentuk kedinamisan organisasi. Dalam
internal terdapat dua variable yang penting, yaitu, Struktur dan
Budaya. Struktur berkenaan dengan mekanisme, prosedural organisasi.
Budaya adalah yang berkenaan dengan pola keyakinan dan pemikiran,
aspirasi dan nilai-nilai yang diharapkan oleh semua anggota
organisasi.
-
Perumusan organisasi
Adalah
pengembangan planing jangka panjang, dari menejemen yang efektif dari
kesempatan dan ancaman yang disinergiskan dengan kondisi internal.
-
Misi
Misi
Organisasi adalah tujuan atau alasan mengapa organisasi ada dan
mempertegas keberadaan organisasi. Konsep misi yang disusun dengan
sistemik dan general itu akan menjadikan ciri khas organisasi dengan
organisasi yang lain, dan berperan terhadap uniknya nilai produk
organisasi yang ditawarkan. Konsepsi misi yang apik juga dapat
meminimalisir konflik internal yang dianggap kurang prinsip dan
membantu meningkatkan intensitas diskusi dan kajian secara produktif.
-
Tujuan
Merupakan
hasil akhir aktivitas perencanaan, dengan merumuskan apa dan kapan
yang akan diselasaikan dengan mengukur sasaran.
6.
Strategi
Merupakan
konsep perencanaan komprehensif tentang bagaimana organisasi dapat
mencapai misi dan tujuan.
-
Kebijakan
Yaitu
pedoman luas yang menghubungkan strategi dan implementasi. Kebijakan
ini bersifat general yang nantinya akan diikuti dan disepesifikan dan
di interpretasikan dan di implementasikan oleh devisi-devisi melalui
strategi dan tujuan devisi masing-masing.
-
Implementasi strategi
Proses
dimana manajemen mewujudkan strategi dan kebijakan dalam tindakan
melalui pengembangan program, anggaran dan prosedur.
-
Program
Pernyataan
aktivitas-aktivitas yang diperlukan untuk menyelesaikan perencanaan
sekali pakai.
-
Anggaran
Program
yang dinyatakan dalam satuan uang, setiap program akan dinyatakan
secara rinci dalam biaya, yang dapat digunakan oleh SDM untuk
mengelola organisasi.
-
Prosedur
Sering
juga disebut dengan standard operating proscedurs, yaitu
langkah-langkah yang berurutan yang menggambarkan dengan rinci
bagaimana suatu tugas atau pekerjaan diselesaikan.
-
Evaluasi dan Pengendalian
Adalah
proses yang melalui aktivitas-aktivitas dan hasil kerja dimonitor dan
kinerja nyata dengan kinerja/program yang diinginkan.
IMPLIKASI
MANAJERIAL
Perubahan
organisasional adalah tindakan beralihnya suatu organisasi dari
kondisi yang berlaku kini, lalu kondisi masa yang akan dating yang
diinginkan guna meningatkan efesiensinya. Pengembangan Organisasi
adalah suatu pendekatan sistematik, terpadu dan terencana untuk
meningkatkan efektivitas organisasi serta memecahkan masalah-masalah
(seperti kutrangnya kerja sama/koperasi, desentralisasi yang
berlebihan dan kurang cepatnya komunikasi dan sebagainya) yang
merintangi efisiensi pengoperasian pada semua tingkatan.
Kekuatan-kekuatan
Internal dalam perubahan organisasi, Perubahan kebijakan lingkungan,
Perubahan tujuan, Perluasan wilayah operasi tujuan, Volume kegiatan
bertambah banyak, Sikap dan perilaku dari para anggota organisasi.
Kekuatan-kekuatan eksternal yaitu Politik, Hukum, Kebudayaan,
Teknologi, Sumberdaya alam, Demografi, Sosiologi.
Referensi
:
Senin, 23 November 2015
Soft Skill - Teori Organisasi Umum 2 : Desain dan Struktur Organisasi
DIMENSI STRUKTUR ORGANISASI
Empat desain keputusan (pembagian kerja, pendelegasian kewenangan, pembagian departemen, dan rentang kendali) menghasilkan struktur organisasi, Para peneliti dan praktisi manajemen berusaha untuk mengembangan pemahaman mengenai hubungan antar struktur dan kinerja, sikap, keefektifan, dan variabel lainnya. Secara umum, gambaran mengenai struktur organisasi meliputi :
1.Formalisasi
Formalisasi mengacu derajat dimana segala harapan mengenai cara dan tujuan pekerjaan dirumuskan, ditulis dan diberlakukan. Suatu organisasi yang sangat formal, akan memuat prosedur dan aturan yang ketat dalam setiap kegiatan / pekerjaan di dalam organisasi. Dengan demikian, semakin formal suatu organisasi, maka semakin ketat pula aturan dan prosedur kerja. Formalisasi merupakan hasil dari spesialisasi kerja yang tinggi, pendelegasian kewenangan yang tinggi, pembagian departemen berdasarkan fungsi, dan luasnya rentang kendali.
2.Sentralisasi
Sentralisasi merupakan dimensi struktur organisasi yang mengacu pada derajat dimana kewenangan untuk mengambil keputusan dikuasai oleh manajemen puncak. Hubungan sentralisasi dengan empat desain keputusan adalah sebagai berikut : Semakin tinggi spesialisasi kerja, semakin besar sentralisasi, Semakin sedikit kewenangan yang didelegasikan, semakin besar sentralisasi, Semakin besar penggunaan departemen berdasarkan fungsi, semakin besar sentralisasi, Semakin luas rentang kendali, semakin besar sentralisasi.
3.Kerumitan
Kerumitan (complexity) adalah suatu struktur organisasi yang mengacu pada jumlah pekerjaan atau unit yang berbeda dalam organisasi.
DEPARTEMENTALISASI
Beberapa bentuk departementalisasi sebagai berikut :
1. Fungsi
2. Produk atau jasa
3. Wilayah
4. Langganan
5. Proses atau peralatan
6. Waktu
7. Pelayanan
8. Alpa-numeral
9. Proyek atau matriks
MODEL-MODEL DESAIN ORGANISASI
Ada 4 model dari desain organisasi.
-
Model mekanistis, yaitu sebuah struktur yang dicirikan oleh departementalisasi yang luas, formalisasi yang tinggi, jaringan informasi yang terbatas, dan sentralisasi.
-
Model organik, yaitu sebuah struktur yang rata, menggunakan tim lintas hierarki dan lintas fungsi, memiliki formalisasi yang rendah, memiliki jaringan informasi yang komprehensif, dan mengandalkan pengambilan keputusan secara partisipatif.
-
Model Piramid,model ini di buat persis sebuah piramida.
-
Model Horizontal,Model ini dibuat dengan manarik garis
lurus secara horizontal dengan pembagian funsional masing-masing
bersama tugasnya masi-masing
IMPLIKASI MANAJERIAL DESAIN DAN STRUKTUR ORGANISASI
Desain dan Struktur Organisasi berperan penting terhadap kehidupan organisasi tersebut. Organisasi terbentuk dari beberapa elemen yang diwajibkan untuk saling bekerjasama. Tanpa adanya struktur yang jelas, maka kerjasama antara elemen tersebut akan sulit sehingga membuat kehidupan organisasi terganggu atau bahkan mati dikarenakan elemen-elemennya tidak saling berkaitan. Untuk itulah diperlukan suatu struktur yang membuat setiap elemen dalam organisasi tersebut dapat bekerjasama dan saling melengkapi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Departementalisasi
https://id.wikipedia.org/wiki/Struktur_organisasi
https://duniatugasasri.wordpress.com/2013/06/11/dimensi-struktur-organisasi/
Minggu, 22 November 2015
Soft Skill - Teori Organisasi Umum 2 : Kepemimpinan
TEORI DAN ARTI PENTING KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah
kemampuan yang sanggup meyakinkan orang lain supaya bekerjasama dibawah pimpinannya
sebagai suatu tim untuk mencapai tujuan tertentu. Cara alamiah
mempelajari kepemimpinan adalah
‘melakukannya dalam kerja’ dengan praktik seperti pemagangan pada
seorang seniman ahli,
pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang akhil diharapkan
sebagai bagian dari perannya memberikan
pengajaran/intruksi.
Kebanyakan
orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimpin yang efektif mempunyai sifat atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya
karisma, pandangan ke depan, daya persuasi, dan intensitas. Dan
memang, apabila kita berpikir tentang pemimpin yang heroik seperti
Napoleon, Washington, Lincoln,
Churcill, Sukarno, Jenderal Sudirman, dan sebagainya kita harus
mengakui bahwa sifat-sifat
seperti itu melekat pada diri mereka dan telah mereka manfaatkan
untuk mencapai tujuan yang mereka
inginkan.
Teori
kepemimpinan dalam organisasi telah berevolusi dari waktu ke waktu ke
dalam berbagai jenis dan merupakan
dasar terbentuknya suatu kepemimpinan. Setiap teori menyediakan gaya
yang efektif dalam
organisasi. Banyak penelitian manajemen telah menemukan solusi
kepemimpinan yang sempurna. Hal ini
menganalisis sebagian besar teori terkemuka dan mengeksplorasinya.
Dalam teori kepemimpinan, ada
beberapa macam teori di antaranya:
1. Great Man
Theory
Teori ini
mengatakan bahwa pemimpin besar (great leader) dilahirkan, bukan
dibuat (leader are born, not made).
Dilandasi oleh keyakinan bahwa pemimpin merupakan orang yang memiliki
sifat-sifat luar biasa dan
dilahirkan dengan kualitas istimewa yang dibawa sejak lahir dan
ditakdirkan menjadi seorang pemimpin di
berbagai macam organisasi. Orang yang memiliki kualitas dapat
dikatakan orang yang sukses dan
disegani oleh bawahannya serta menjadi pemimpin besar. Senada dengan
hal tersebut, Kartini Kartono
dalam bukunya membagi definisi teori ini dalam dua poin, yaitu
seorang pemimpin itu tidak dibuat, akan
tetapi terlahir menjadi pemimpin oleh bakat-bakat alami yang luar
biasa sejak lahirnya dan yang
kedua dia ditakdirkan lahir menjadi seorang pemimpin dalam situasi
kondisi yang
bagaimanapun juga.
James (1980), menyatakan bahwa setiap jaman memiliki pemimpin besar. Perubahan sosial
terjadi karena para pemimpin besar memulai dan memimpin perubahan
serta menghalangi orang
lain yang berusaha membawa masyarakat ke arah yang berlawanan. Teori
kepemimpinan ini dikembangkan dari penelitian awal yang mencakup
studi pemimpin besar. Para pemimpin berasal dari kelas yang istimewa
dan memegang gelar turun-temurun. Sangat sedikit orang dari kelas
bawah memiliki kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin. Teori great
man didasarkan pada
gagasan bahwa setiap kali ada kebutuhan kepemimpinan, maka muncullah
seorang manusia yang luar
biasa dan memecahkan masalah. Ketika teori great man diusulkan,
sebagian besar pemimpin adalah
orang laki-laki dan hal itu tidak bisa ditawar. Bahkan para peneliti
adalah orang laki-laki juga, yang
menjadi alasan untuk nama teori tersebut “great man”. Konsep
kepemimpinan pada teori ini yang
disebut orang besar adalah atribut tertentu yang melekat pada diri
pemimpin atau sifat personal, yang
membedakan antara pemimpin dan pengikutnya.
2. Teori Sifat
Teori sifat
kepemimpinan membedakan pada pemimpin dari mereka yang bukan pemimpin
dengan cara berfokus pada berbagai sifat dan karakteristik pribadi
masing-masing. Pada teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa
keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat atau
ciri-ciri yang dimilikinya. Atas dasar pemikiran tersebut, timbul
anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil sangat
ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Kemampuan pribadi yang
dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat atau
ciri-ciri di dalam dirinya. Dalam mencari ciri-ciri kepemimpinan yang
dapat diukur, para peneliti menggunakan dua pendekatan yaitu mereka
berusaha membandingkan ciri-ciri dari dua orang yang muncul sebagai
pemimpin dengan ciri-ciri yang tidak demikian dan mereka
membandingkan ciri pemimpin yang efektif dengan ciri-ciri pemimpin
yang tidak efektif. Akan tetapi studi tentang ciri-ciri ini mengalami
kegagalan untuk mengungkap secara jelas dan konsisten yang membedakan
pemimpin dan pengikut. Hasil penelitian ini dikemukakan oleh Cecil A.
Gibb (1969) bahwa pemimpin satu kelompok diketahui agak lebih tinggi,
lebih cemerlang, lebih terbuka, dan lebih percaa diri daripada yang
bukan pemimpin. Tetapi banyak orang yang memiliki ciri-ciri ini dan
kebanyakan dari mereka tidak pernah menjadi pemimpin. Salah satu
temuannya, orang yang terlalu cerdas dibanding dengan anggota dalam
kelompok tidak muncul atau tidak menjadi seorang pemimpin, barangkali
orang ini berbeda terlalu jauh dengan kelompoknya. Pada teori ini
mengasumsikan bahwa manusia yang mewarisi sifat-sifat tertentu dan
sifat-sifat yang membuat mereka lebih cocok untuk menjalankan fungsi
kepemimpinan. Selain itu juga, menempatkan sejumlah sifat atau
kualitas yang dikaitkan dengan keberadaan pemimpin yang memungkinkan
pekerjaan atau tugas kepemimpinannya akan menjadi sukses ataupun
efektif di mata orang lain. Seorang pemimpin akan sukses atau efektif
apabila dia memiliki sifat-sifat seperti berani bersaing, percaya
diri, bersedia berperan sebagai pelayan orang lain, loyalitas tinggi,
intelegensi tinggi, hubungan interpersonal baik, dan lain sebagainya.
Menurut Judith R. Gordon menyatakan bahwa seorang pemimpin harus
memiliki karakter, seperti kemampuan intelektual, kematangan pribadi,
pendidikan, status sosial ekonomi, human relations, motivasi
intrinsik dan dorongan untuk maju (achievement drive). Sedangkan
menurut Sondang P. Siagian (1994), bahwa seorang pemimpin itu harus
memiliki ciri-ciri ideal di antaranya:
a. Pengetahuan
umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas,
pragmatisme,
fleksibilitas,
adaptabilitas, dan orientasi masa depan.
b. Sifat
inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri
relevansi, keteladanan, ketegasan,
keberanian,
sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik,
kapasitas integratif.
c. Kemampuan
untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas,
membedakan
yang penting dan yang tidak penting, keterampilan mendidik dan
berkomunikasi
secara
efektif.
Menurut
Ronggowarsito, menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki
Hastabrata, yaitu delapan sifat unggul seorang pemimpin yang
dikaitkan dengan sifat-sifat alam di antaranya:
a. Bagaikan surya
Menerangi
dunia, memberi kehidupan, menjadi penerang, pembuat senang, arif,
jujur, adil, dan rajin bekerja
sehingga negara aman sentosa.
b. Bagaikan
candra atau rembulan
Memberikan
cahaya penerangan keteduhan pada hati yang tengah dalam kesulitan,
bersifat
melindungi
sehingga setiap orang dapat tekun menjalankan tugasnya masing-masing
dan memberi ketenangan.
c. Bagaikan
kartika atau bintang
Menjadi pusat
pandangan sebagai sumber kesusilaan, menjadi kiblat ketauladanan dan
menjadi sumber
pedoman.
d. Bagaikan meja
atau awan
Menciptakan
kewibawaan, mengayomi meneduhi sehingga semua tindakan menimbulkan
ketaatan.
e. Bagaikan bumi
Teguh, kokoh
pendiriannya dan bersahaja dalam ucapannya.
f. Bagaikan
samudra
Luas
pandangan, lebar dadanya, dan dapat membuat rakyat seiya sekata.
g. Bagaikan hagni
atau api
Adil,
menghukum tanpa memandang bulu, yang salah menjalankan hukuman dan
yang baik mendapat
pahala.
h. Bagaikan bayu
atau angin
Adil, jujur,
terbuka dan tidak ragu-ragu.
Dari penjelasan di
atas, bahwa karakter istimewa yang harus dimiliki oleh seorang
pemimpin
mencakup karakter
bawaan dan karakter yang diperoleh kemudian dikembangkan pada
kemudian.
Adapun kelemahan
dari seorang pemimpin pada teori sifat di antaranya:
a. Terlampau
banyak sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin
b. Mengabaikan
unsur follower dan situasi serta pengaruhnya terhadap efektivitas
pemimpin
c. Tidak semua
ciri cocok untuk segala situasi
d. Terlampau
banyak memusatkan pada sifat-sifat kepemimpinan dan mengabaikan apa
yang sebenarnya
dilakukan oleh pemimpin.
Untuk
menyukseskan pelaksanaan tugas para pemimpin belakangan ini telah
banyak dilakukan penelitian oleh para
ahli dengan harapan dapat ditemukan model kepemimpinan yang baik atau
efektif. Namun kesimpulan
dari hasil studi, ternyata tidak ada satu model tunggal yang memenuhi
harapan. Dalam kaitannya
dengan ciri-ciri pemimpin, J. Slikboer menyatakan bahwa setiap
pemimpin hendaknya memiliki tiga sifat, yaitu sifat dalam bidang
intelektual, berkaitan dengan watak, dan berhubungan dengan tugasnya
sebagai pemimpin. Ciri-ciri lain yang berbeda dikemukakan oleh Ruslan
Abdulgani (1958) bahwa soerang pemimpin harus mempunyai kelebihan
dalam hal menggunakan pikiran, rohani dan jasmani.
3. Teori Perilaku
Teori perilaku
disebut juga dengan teori sosial dan merupakan sanggahan terhadap
teori great man. Pemimpin itu harus
disiapkan, dididik dan dibentuk tidak dilahirkan begitu saja (leaders
are made, not born). Setiap orang
bisa menjadi pemimpin, melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta
dorongan oleh kemauan
sendiri. Teori ini tidak menekankan pada sifat-sifat atau kualitas
yang harus dimiliki seorang pemimpin
tetapi memusatkan pada bagaimana cara aktual pemimpin berperilaku
dalam mempengaruhi orang
lain dan hal ini dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan masing-masing.
Dasar pemikiran pada teori
ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika
melakukan kegiatan pengarahan
suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Teori ini memandang bahwa kepemimpinan dapat
dipelajari dari pola tingkah laku, dan bukan dari sifat-sifat
(traits) seorang pemimpin. Alasannya
sifat seseorang relatif sukar untuk diidentifikasikan.
Beberapa pandangan
para ahli, antara lain James Owen (1973) berkeyakinan bahwa perilaku
dapat dipelajari. Hal ini
berarti bahwa orang yang dilatih dalam perilaku kepemimpinan yang
tepat akan dapat memimpin secara efektif. Namun demikian hasil
penelitian telah membuktikan bahwa perilaku kepemimpinan yang
cocok dalam satu situasi belum tentu sesuai dengan situasi yang lain.
Akan tetapi, perilaku
kepemimpinan ini keefektifannya bergantung pada banyak variabel.
Robert F. Bales (Stoner, 1986) mengemukakan
hasil penelitian, bahwa kebanyakan kelompok yang efektif mempunyai
bentuk kepemimpinan terbagi
(shared leadership), seumpama satu orang menjalankan fungsi tugas dan anggota lainnya
melaksanakan fungsi sosial. Pembagian fungsi ini karena perhatian
seseorang akan terfokus pada satu
peran dan mengorbankan peran lainnya.
Dalam hal ini,
pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
a. Konsiderasi
dan struktur inisiasi
Perilaku
seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki
ciri-ciri ramah
tamah, mau
berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima usul dan
memikirkan kesejahteraan
bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya. Disamping itu,
terdapat kecenderungan
perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas orientasi.
b. Berorientasi
kepada bawahan dan produksi
Perilaku
pemimpin yang berorientasi yang berorientasi kepada bawahannya
ditandai oleh
penekanan pada
hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan
kebutuhan bawahan serta
menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan.
Sedangkan perilaku
pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan
penekanan pada segi teknis
pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta
pencapaian tujuan.
Pada sisi lain,
perilaku pemimpin menurut model leadership continuum pada dasarnya
ada dua yaitu berorientasi
kepada pemimpin dan bawahannya. Sedangkan berdasarkan model grafik kepemimpinan,
perilaku setiap seorang pemimpin dapat diukur melalui dua dimensi
yaitu perhatiannya terhadap hasil atau
tugas dan terhadap bawahan atau hubungan kerja. Stoner (1978)
mengungkapkan bahwa kecenderungan
perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah
fungsi dan gaya
kepemimpinan. Selain itu, pada teori ini seorang pemimpin yang baik
adalah bagaimana seorang pemimpin
memiliki perhatian yang tinggi terhadap bawahan dan terhadap hasil
yang tinggi juga.
Bagaimana seorang
pemimpin berperilaku akan dipengaruhi oleh latar belakang
pengetahuan, nilai-nilai, dan
pengalaman mereka (kekuatan pada diri pemimpin). Sebagai contoh,
pimpinan yang yakin bahwa
kebutuhan perorangan harus dinomorduakan daripada kebutuhan
organisasi, mungkin akan mengambil peran
yang sangat direktif (peran perintah) dalam kegiatan para bawahannya.
Demikian pula
seorang bawahan perlu dipertimbangkan sebelum pimpinan memilih gaya
yang cocok atau sesuai.
4. Teori
Kepemimpinan Situasional
Teori
kepemimpinan situasional adalah suatu pendekatan terhadap
kepemimpinan yang
menganjurkan
pemimpin untuk memahami perilaku bawahan, dan situasi sebelum
menggunakan perilaku
kepemimpinan tertentu. Pendekatan ini menghendaki pemimpin untuk
memiliki kemampuan diagnosa dalam
hubungan antara manusia (Monica, 1998). Teori ini muncul sebagai
reaksi terhadap teori perilaku yang
menempatkan perilaku pemimpin dalam dua kategori yaitu otokratis dan demokratis. Dalam
teori ini dijelaskan bahwa seorang pemimpin memilih tindakan terbaik
berdasarkan variabel
situasional. Menurut pandangan perilaku, dengan mengkaji kepemimpinan
dari beberapa variabel yang mempengaruhi perilaku akan memudahkan
menentukan gaya kepemimpinan yang paling cocok. Teori ini
menitikberatkan pada berbagai gaya kepemimpinan yang paling efektif
diterapkan
dalam situasi
tertentu. Keefektifan kepemimpinan tidak tergantung pada gaya
tertentu terhadap suatu situasi, tetapi
tergantung pada ketepatan pemimpin berperilaku sesuai dengan
situasinya.
Seorang
pemimpin yang efektif dalam teori ini harus bisa memahami dinamika
situasi dan
menyesuaikan
kemampuannya dengan dinamika situasi yang ada. Penyesuaian gaya
kepemimpinan yang dimaksud adalah
kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan perilaku karena tuntunan
situasi tertentu. Dengan demikian berkembanglah berbagai macam
model-model kepemimpinan di antaranya:
a. Model
Kontinuum Otokratik-Demokratik
Gaya dan
perilaku kepemimpinan tertentu selain berhubungan dengan situasi dan
kondisi yang dihadapi, juga
berkaitan dengan fungsi kepemimpinan yang harus diselenggarakan.
Sebagai contoh, dalam
hal pengambilan keputusan, pemimpin bergaya otokratik akan mengambil keputusan
sendiri. Ciri kepemimpinan yang menonjol ketegasan disertai perilaku
yang berorientasi pada
penyelesaian tugas. Sedangkan pemimpin bergaya demokratik akan
mengajak bawahannya untuk
berpartisipasi. Ciri kepemimpinan yang menonjol di sini adalah
menjadi pendengar yang baik disertai
perilaku memberikan perhatian pada kepentingan dan kebutuhan bawahan.
b. Model
Interaksi Atasan-Bawahan
Menurut model
ini, efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada interaksi
yang terjadi antara
pemimpin dan bawahannya dan sejauh mana interaksi tersebut
mempengaruhi perilaku pemimpin yang
bersangkutan. Seorang akan menjadi pemimpin yang efektif apabila:
1. Hubungan
atasan dan bawahan dikategorikan baik.
2. Tugas yang
harus dikerjakan bawahan disusun pada tingkat struktur yang tinggi.
3. Posisi
kewenangan pemimpin tergolong kuat.
c. Model
Situasional
Model ini
menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada
pemilihan gaya
kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat
kematangan jiwa bawahan.
Dimensi kepemimpinan yang digunakan dalam metode ini adalah perilaku
pemimpin yang berkaitan
dengan tugas kepemimpinannya dan hubungan atasan-bawahan. Berdasarkan dimensi
tersebut, gaya kepemimpinan yang dapat digunakan adalah:
1.
Memberitahukan;
2. Menjual;
3. Mengajak
bawahan berperan, serta
4. Melakukan
pendelegasian.
d. Model
Jalan-Tujuan
Seorang
pemimpin yang efektif menurut model ini adalah pemimpin yang mampu
menunjukkan jalan yang
dapat ditempuh bawahan. Salah satu mekanisme untuk mewujudkan hal
tersebut yaitu kejelasan
tugas yang harus dilakukan bawahan dan perhatian pemimpin kepada
kepentingan dan kebtuuhan
bawahannya. Perilaku pemimpin berkaitan dengan hal tersebut harus
merupakan faktor motivasional
bagi bawahannya.
e. Model
Pimpinan-Peran serta Bawahan
Perhatian
utama model ini adalah perilaku pemimpin dikaitkan dengan proses
pengambilan
keputusan.
Perilaku pemimpin perlu disesuaikan dengan struktur tugas yang harus diselesaikan oleh
bawahannya. Salah satu syarat penting untuk paradigma tersebut adalah adanya serangkaian ketentuan yang
harus ditaati oleh bawahan dalam menentukan bentuk dan tingkat peran
serta bawahan dalam
pengambilan keputusan.
Pada teori
situasional ini terdapat empat dimensi situasi yang di mana secara
dinamis akan
memberikan pengaruh
terhadap efektifitas kepemimpinan seseorang:
a. Kemampuan
Manajerial
Kemampuan ini
merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi efektivitas
kepemimpinan
seseorang.
Kemampuan manajerial meliputi kemampuan teknikal, kemampuan sosial,
pengalaman,
motivasi dan penilaian terhadap “reward” yang disediakan oleh
perusahaan.
b. Karakteristik
Pekerjaan
Merupakan
unsur kedua terpenting yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan.
Pekerjaan
yang penuh
tantangan akan membuat seseorang lebih bersemangat untuk berprestasi
dibanding pekerjaan
rutin yang membosankan. Juga pada tingkat kerja dengan kelompok yang
diperlukan untuk
menyelesaikan pekerjaan akan sangat mempengaruhi efektivitas seorang
pemimpin.
c. Karakteristik
Organisasi
Budaya
korporat, kebijakan, dan birokrasi bisa membatasi gaya kepemimpinan
seorang manajer.Juga bila di
dalam suatu organisasi banyak terdapat profesional dan kelompok ahli. Maka gaya kepemimpinan
yang efektif tentu berbeda dengan organisasi perusahaan yang terdiri
dari para pekerja kasar.
d. Karakteristik
Pekerja
Dalam
karakteristik pekerja meliputi karakteristik kepribadian, kebutuhan,
pengalaman dari para pegawai akan
mempengaruhi efektivitas kepemimpinan manajer.
Keberhasilan
seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri
kepemimpinan
dengan perilaku yang
disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi
organisasional yang dihadapi dengan
memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang
berpengaruh terhadap gaya
kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah
jenis pekerjaan dan kompleksitas
tugas, bentuk dan sifat teknologi yang digunakan, persepsi, sikap dan
gaya kepemimpinan, norma
yang dianut kelompok, rentang kendali, ancaman dari luar organisasi,
tingkat stress, dan iklim
yang terdapat dalam organisasi.
5. Teori
Kepemimpinan Karismatik
Dalam teori
ini para pengikut memiliki keyakinan bahwa pemimpin mereka diakui
memiliki
kemampuan yang luar
biasa. Kemampuan mempengaruhi pengikut bukan berdasarkan pada tradisi
atau otoritas formal
tetapi lebih pada persepsi pengikut bahwa pemimpin diberkati dengan
bakat supranatural dan kekuatan yang luar biasa. Di mana kemampuan
yang luar biasa tersebut hanya dimiliki oleh orang- orang tertentu
dan tidak semua orang memilikinya. Seorang pemimpin dianggap orang
yang lebih tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Karisma
berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti “berkat yang
terinspirasi secara agung” atau ”pemberian tuhan”. Seperti
kemampuan melakukan keajaiban atau memprediksikan peristiwa masa
depan. Para pemimpin akan lebih dipandang sebagai karismatik jika
mereka membuat pengorbanan diri, mengambil resiko pribadi dan
mendatangkan biaya tinggi untuk mencapai visi yang mereka dukung.
Kepercayaan terlihat menjadi komponen penting dari karismatik dan
pengikut akan lebih mempercayai pemimpin yang kelihatan tidak terlalu
termotivasi oleh kepentingan pribadi daripada oleh perhatian terhadap
pengikut. Yang paling mengesankan adalah seorang pemimpin yang
benar-benar mengambil resiko kerugian pribadi yang cukup besar dalam
hal status, uang posisi kepemimpinan atau keanggotaan dalam
organisasi. Menurut Weber (1947), karismatik terjadi saat terdapat
sebuah krisis sosial, seorang pemimpin muncul dengan sebuah solusi
untuk krisis itu, pemimpin menarik pengikut yang percaya pada visi
itu. Mereka mengalami beberapa keberhasilan yang membuat visi
tersebut dapat terlihat, dapat dicapai dan para pengikut dapat
mempercayai bahwa pemimpin itu sebagai orang yang luar biasa.
Konsep
karismatik menurut Weber (1947), konsep yang lebih ditekankan kepada
kemampuan
pemimpin yang
memiliki kekuatan luar biasa dan mistis. Menurutnya, ada lima faktor
yang muncul bersamaan dengan
kekuasaan yang karismatik yaitu:
a. Adanya
seseorang yang memiliki bakat luar biasa;
b. Adanya krisis
sosial;
c. Adanya
sejumlah ide yang radikal untuk memecahkan krisis tersebut;
d. Adanya
sejumlah pengikut yang percaya bahwa seseorang itu memiliki kemampuan
luar biasa yang bersifat
transendental dan supranatural, serta
e. Adanya bukti
yang berulang bahwa apa yang dilakukan itu mengalami kesuksesan.
House (1977),
berpendapat bahwa seorang pemimpin karismatik mempunyai dampak yang
dalam dan tidak biasa terhadap para pengikut. Mereka menerima
pemimpin tersebut tanpa mempertanyakannya lagi, mereka tunduk kepada
pemimpin dengan senang hati, merasa disayang terhadap pemimpin
tersebut, mereka terlibat secara emosional dalam misi kelompok atau
organisasi tersebut, percaya
bahwa mereka dapat memberi kontribusi terhadap keberhasilan dan
mereka mempunyai
tujuan-tujuan kinerja tinggi. Karismatik negatif memiliki orientasi
kekuasaan secara pribadi:
a. Mereka
menekankan identifikasi pribadi daripada internalisasi.
b. Mereka lebih
menanamkan kesetiaan kepada diri mereka sendiri daripada idealisme.
c. Mereka dapat
menggunakan daya tarik ideologis, tetapi hanya sebagai cara untuk memperoleh kekuasaan,
kemudian diabaikan atau diubah secara sembarangan sesuai dengan
sasaran pribadi pemimpin itu.
d. Mereka
berusaha untuk mendominasi dan menaklukkan pengikut dengan membuat
mereka tetap lemah dan
bergantung pada pemimpin.
e. Otoritas untuk
membuat keputusan penting dipusatkan pada pemimpin, penghargaan dan
hukuman digunakan
untuk memelihara sebuah citra pemimpin yang tidak dapat berbuat
kesalahan atau untuk membesar-besarkan ancaman eksternal kepada organisasi.
f. Keputusan
dari para pemimpin ini mencermnkan perhatian yang lebih besar akan
pemujaan diri dan
memelihara kekuasaan daripada bagi kesejahteraan pengikut.
Karismatik
positif memiliki orientasi kekuasaan sosial:
a. Para pemimpin
ini menekankan internalisasi dari nilai-nilai bukannya identifikasi
pribadi;
b. Mereka tidak
berusaha untuk menanamkan kesetiaan kepada diri mereka sendiri,
tetapi lebih pada ideologi;
c. Otoritas
didelegasikan hingga batas yang cukup besar, informasi dibagikan
secara terbuka,
didorongnya
partisipasi dalam keputusan;
d. Penghargaan
digunakan untuk menguatkan perilaku yang konsisten dengan misi dan
sasaran dari organisasi,
serta
e. Hasilnya
adalah kepemimpinan mereka akan makin menguntungkan bagi pengikut.
Beberapa
teori-teori membahas mengenai bagaimana karisma seorang pemimpin
mempengaruhi bawahannya. Telah
dibahas bahwa seorang bawahan begitu kuat terpengaruh oleh karisma
pimpinannya dalam menyelesaikan sebuah misi. Terdapat beberapa hal
yang mempengaruhi proses pengaruh karismatik seorang pemimpin yaitu:
a. Identifikasi
Pribadi (Personal Identification)
Identifikasi
pribadi merupakan sebuah proses mempengaruhi yang terjadi pada
beberapa orang pengikut namun tidak
pada yang lainnya. Proses ini paling banyak terjadi pada para
pengikut yang mempunyai rasa harga
diri rendah, identitas diri rendah, dan kebutuhan yang tinggi untuk menggantungkan diri
kepada tokoh-tokoh yang berkuasa.
b. Identifikasi
Sosial (Social Identification)
Identifikasi
sosial merupakan sebuah proses mempengaruhi yang menyangkut definisi
diri sendiri dalam hubungannya
dengan sebuah kelompok atau kolektivitas. Para pemimpin karismatik meningkatkan
identifikasi sosial dengan membuat hubungan antara konsep diri
sendiri, para pengikut individual dan
nilai-nilai yang dirasakan bersama serta identitas-identitas
kelompok. Seorang pemimpin karismatik dapat
meningkatkan identifikasi sosial dengan memberi kepada kelompok
sebuah identitas yang unik, yang
membedakan kelompok tersebut dengan kelompok yang lainnya.
c. Internalisasi
(Internalization)
Para pemimpin
karismatik mempengaruhi para pengikut untuk merangkul nilai-nilai
baru, namun lebih umum bagi para
pemimpin karismatik untuk meningkatkan kepentingan nilai-nilai yang
ada sekarang pada para
pengikut dan dengan menghubungkannya dengan sasaran-sasaran tugas.
Para pemimpin karismatik
juga menekankan aspek-aspek simbolis dan ekspresif pekerjaan itu,
yaitu membuat pekerjaan
tersebut menjadi lebih berarti, mulia, heroik dan secara moral benar.
Para pemimpin karismatik itu juga tidak menekankan pada
imbalan-imbalan ekstrinsik dalam rangka mendorong para pengikut untuk
memfokuskan diri kepada imbalan-imbalan instrinsik dan meningkatkan
komitmen mereka kepada sasaran-sasaran objektif.
d. Kemampuan diri
sendiri (Self-efficacy)
Efikasi diri
sendiri merupakan suatu keyakinan bahwa individu tersebut mampu dan
kompeten untuk mencapai
sasaran tugas yang sukar. Efikasi diri kolektif menunjuk kepada
persepsi para anggota kelompok jika mereka
bersama-sama dan mereka menghasilkan hal-hal yang luar biasa. Para
pemimpin karismatik
meningkatkan harapan diri para pengikut bahwa usaha-usaha kolektif
dan individual mereka untuk melaksanakan
misi kolektif akan berhasil.
TIPOLOGI KEPEMIMPINAN
TIPOLOGI KEPEMIMPINAN
Tipologi kepemimpinan disusun dengan titik tolak interaksi personal
yang ada dalam kelompok. Tipe-tipe pemimpin
dalam tipologi ini dapat dikelompokkan dalam kelompok tipe berdasarkan jenis-jenisnya antara
lain:
a. Tipe Otokratis
Seorang
pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau
ciri seperti
menganggap
organisasi sebagai pemilik pribadi, mengidentikkan tujuan pribadi
dengan tujuan organisasi,
menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, tidak mau menerima
kritik, saran dan pendapat, terlalu
tergantung kepada kekuasaan formalnya, dalam tindakan penggerakannya
sering mempergunakan
pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.
b. Tipe
Militeristis
Perlu
diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang
pemimpin tipe militerisme berbeda dengan
seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe
militeristis ialah seorang pemimpin
yang memiliki sifat-sifat berikut yaitu dalam sistem perintah dalam
menggerakkan bawahan lebih sering
dipergunakan, senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya dalam menggerakkan
bawahan, senang pada formalitas yang berlebih-lebihan, menuntut
disiplin yang tinggi dan kaku dari
bawahan, sukar menerima kritikan dari bawahannya, serta menggemari
upacara-upacara untuk berbagai
keadaan.
c. Tipe
Paternalistis
Seorang
pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah
seorang yang memiliki ciri
sebagai berikut yaitu menganggap bawahannya sebagai manusia yang
tidak dewasa, bersikap terlalu
melindungi (over-protective), jarang memberikan kesempatan kepada
bawahannya untuk mengambil
keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengambil inisiatif, jarang
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya
kreasi dan fantasinya, dan
sering bersikap maha tahu.
d. Tipe
Karismatik
Hingga
sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa
seseorang pemimpin memiliki
karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat
besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya
sangat besar, meskipun para
pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka
menjadi pengikut pemimpin itu. Karena
kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi
pemimpin yang karismatik,
maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi
dengan kekuatan gaib
(supernatural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat
dipergunakan sebagai kriteria
untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain
bukanlah seorang yang fisik
sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma
meskipun umurnya masih muda
pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai
profil, Gandhi tidak dapat
digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng’.
e. Tipe
Demokratis
Pengetahuan
tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang
demokratislah yang paling tepat
untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini
memiliki karakteristik
sebagai berikut yaitu dalam proses penggerakan bawahan selalu
bertitik tolak dari pendapat bahwa
manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusahamensinkronisasikan
kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan
pribadi dari pada bawahannya, senang
menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya, selalu
berusaha mengutamakan
kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan, ikhlas memberikan
kebebasan yang seluas-luasnya
kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki
agar bawahan itu tidak
lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat
kesalahan yang lain, selalu
berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya, dan
berusaha mengembangkan
kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPEMIMPINAN
Dalam melaksanakan tugas kepemimpinan mempengaruhi orang atau kelompok tujuan tertentu, kita pemimpin, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan adalah sebagai berikut :
a. Faktor Kemampuan Personal
Kemampuan personal adalah kombinasi antara potensi sejak pemimpin dilahirkan ke dunia sebagai manusia dan faktor pendidikan yang ia dapatkan. Jika seseorang lahir dengan kemampuan dasar kepemimpinan, ia akan lebih hebat jika mendapatkan perlakuan edukatif dari lingkungan, jika tidak, ia hanya akan menjadi pemimpin yang biasa dan standar. Sebaliknya jika manusia lahir tidak dengan potensi kepemimpinan namun mendapatkan perlakuan edukatif dari lingkungannya akan menjadi pemimpin dengan kemampuan yang standar pula. Dengan demikian antara potensi bawaan dan perlakuan edukatif lingkungan adlaah dua hal tidak terpisahkan yang sangat menentukan hebatnya seorang pemimpin.
b. Faktor Jabatan
Jabatan adalah struktur kekuasaan yang pemimpin duduki. Jabatan tidak dapat dihindari terlebih dalam kehidupan modern saat ini, semuanya seakan terstrukturifikasi. Dua orang mempunyai kemampuan kepemimpinan yang sama tetapi satu mempunyai jabatan dan yang lain tidak maka akan kalah pengaruh. Sama-sama mempunyai jabatan tetapi tingkatannya tidak sama maka akan mempunyai pengaruh yang berbeda.
c. Faktor Situasi dan Kondisi
Situasi adalah kondisi yang melingkupi perilaku kepemimpinan. Disaat situasi tidak menentu dan kacau akan lebih efektif jika hadir seorang pemimpin yang karismatik. Jika kebutuhan organisasi adalah sulit untuk maju karena anggota organisasi yang tidak berkepribadian progresif maka perlu pemimpin transformasional. Jika identitas yang akan dicitrakan organisasi adalah sebagai religiutas maka kehadiran pemimpin yang mempunyai kemampuan kepemimpinan spiritual adalah hal yang sangat signifikan. Begitulah situasi berbicara, ia juga memilah dan memilih kemampuan oara pemimpin, apakah dia hadir disaat yang tepat atau tidak.
IMPLIKASI MANAJERIAL KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI
Kepemimpinan memiliki keterlibatan yang cukup besar dalam organisasi. Tanpa kepemimpinan yang hebat maka organisasi dapat kacau bahkan mati. Dengan kepemimpinan yang tepat dalam organisasi, maka akan menciptakan kehidupan organisasi yang baik karena adanya proses manajemen yang direncanakan, karena induk dari organisasi adalah pemimpin jadi bila pemimpinnya berkualitas maka organisasi tersebut akan berkualitas pula.
Referensi : http://ardiprawiro.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/41189/Bab+4+TOU+2.pdf
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPEMIMPINAN
Dalam melaksanakan tugas kepemimpinan mempengaruhi orang atau kelompok tujuan tertentu, kita pemimpin, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan adalah sebagai berikut :
a. Faktor Kemampuan Personal
Kemampuan personal adalah kombinasi antara potensi sejak pemimpin dilahirkan ke dunia sebagai manusia dan faktor pendidikan yang ia dapatkan. Jika seseorang lahir dengan kemampuan dasar kepemimpinan, ia akan lebih hebat jika mendapatkan perlakuan edukatif dari lingkungan, jika tidak, ia hanya akan menjadi pemimpin yang biasa dan standar. Sebaliknya jika manusia lahir tidak dengan potensi kepemimpinan namun mendapatkan perlakuan edukatif dari lingkungannya akan menjadi pemimpin dengan kemampuan yang standar pula. Dengan demikian antara potensi bawaan dan perlakuan edukatif lingkungan adlaah dua hal tidak terpisahkan yang sangat menentukan hebatnya seorang pemimpin.
b. Faktor Jabatan
Jabatan adalah struktur kekuasaan yang pemimpin duduki. Jabatan tidak dapat dihindari terlebih dalam kehidupan modern saat ini, semuanya seakan terstrukturifikasi. Dua orang mempunyai kemampuan kepemimpinan yang sama tetapi satu mempunyai jabatan dan yang lain tidak maka akan kalah pengaruh. Sama-sama mempunyai jabatan tetapi tingkatannya tidak sama maka akan mempunyai pengaruh yang berbeda.
c. Faktor Situasi dan Kondisi
Situasi adalah kondisi yang melingkupi perilaku kepemimpinan. Disaat situasi tidak menentu dan kacau akan lebih efektif jika hadir seorang pemimpin yang karismatik. Jika kebutuhan organisasi adalah sulit untuk maju karena anggota organisasi yang tidak berkepribadian progresif maka perlu pemimpin transformasional. Jika identitas yang akan dicitrakan organisasi adalah sebagai religiutas maka kehadiran pemimpin yang mempunyai kemampuan kepemimpinan spiritual adalah hal yang sangat signifikan. Begitulah situasi berbicara, ia juga memilah dan memilih kemampuan oara pemimpin, apakah dia hadir disaat yang tepat atau tidak.
IMPLIKASI MANAJERIAL KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI
Kepemimpinan memiliki keterlibatan yang cukup besar dalam organisasi. Tanpa kepemimpinan yang hebat maka organisasi dapat kacau bahkan mati. Dengan kepemimpinan yang tepat dalam organisasi, maka akan menciptakan kehidupan organisasi yang baik karena adanya proses manajemen yang direncanakan, karena induk dari organisasi adalah pemimpin jadi bila pemimpinnya berkualitas maka organisasi tersebut akan berkualitas pula.
Referensi : http://ardiprawiro.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/41189/Bab+4+TOU+2.pdf
Minggu, 15 November 2015
Struktur dan Organisasi Data
1.
Hambatan-hambatan yang harus dipertimbangkan dalam merancang sebuah
index Inversi untuk Multi-key File antara lain :
-
Urutan record. Setiap penambahan record akan menyebabkan index inversi berubah berupa perubahan urutan record sehingga record harus diurut dengan urutan yang unik.
-
Pointer ke record. Setiap key yang menunjuk (pointing) pada suatu record harus memiliki index yang berbeda-beda.
-
Duplikasi record. Record yang memiliki data key sama (seperti ID) harus memiliki index yang berbeda.
2.
Hambatan-hambatan yang harus dipertimbangkan dalam merancang sebuah
index Multi-List antara lain :
-
Urutan record. Record-record harus diurutkan secara ascending (atas ke bawah) karena index Multi-List hanya menunjuk ke record yang pertama dan akan menurun kebawah.
-
Jumlah akses record. File sequential yang memiliki akses record paling sedikit dalam index Multi-List akan dipilih sehingga file sequential tersebut harus memiliki record yang tidak terlalu banyak.
-
Link record. Setiap record saling berhubungan sehingga index Multi-List pada sebuah record akan berpengaruh terhadap pengaksesan record lain sehingga record-record tersebut harus memiliki hubungan yang relevan.
3.
Karena index inverted lebih menguntungkan dalam mengakses file
sequential. Hal ini disebabkan oleh karakteristik index inverted yang
memiliki key terhadap masing-masing record sehingga record-record
tersebut dapat diurutkan berdasarkan berbagai jenis. Setiap jenis
record tersebut dapat diakses satu per satu dan berurutan.
4.
Jenis permintaan yang dapat dilayani sendiri oleh indexnya adalah
permintaan terhadap informasi pada record berupa keberadaan index,
jumlah record, keterkaitan record, record-record yang saling
berhubungan, dan lain-lain. Informasi-informasi tersebut dapat
dilayani sendiri oleh index inversinya tanpa harus mengakses data
pada file.
5.
Jenis permintaan yang paling menguntungkan adalah pemintaan dalam
pengurutan data secara ascending berdasarkan size (ukuran) file.
Senin, 09 November 2015
Soft Skill - Teori Organisasi Umum 2 : Pengambilan Keputusan
DEFINISI DAN DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan adalah proses dalam manajerial,yang secara universal pengambilan keputusan merupakan alternatif dalam pemecahan masalah. Selain itu pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang manajer menjadi tolak ukur keefektifan mereka. Pengambilan keputusan (decisionmaking) diproses oleh pengambil keputusan (decision maker) yang hasilnya keputusan.
Dasar pengambilan keputusan (decision making) yang dilakukan oleh Manajer (decision maker) biasanya didasarkan atas :
a. Keyakinan
Manajer (decision maker) dalam pengambilan keputusannya didasarkan atas keyakinan bahwa
b.
Intuisi
JENIS-JENIS KEPUTUSAN ORGANISASI
Jenis keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut. Bagian mana organisasi harus dilibatkan dalam mengambil keputusan, dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut difokuskan. Secara garis besar, keputusan digolongkan ke dalam keputusan rutin dan keputusan yang tidak rutin. keputusan rutin adalah keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang, dan biasanya telah dikembangkan cara tertentu untuk mengendalikannya. Keputusan tidak rutin adalah keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.
Di sisi lain, ada pula pembagian jenis keputusan berdasarkan pihak pengambil keputusan, yaitu:
Ada pula jenis keputusan yang berdasarkan masalah yang dihadapi,
yaitu:
Ada pula jenis keputusan yang berdasarkan gaya pengambilan
keputusan, yaitu:
IMPLIKASI MANAJERIAL PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan sangat penting dalam proses manajerial perusahaan. Setiap langkah yang diambil perusahaan merupakan hasil dari pengambilan keputusan yang telah dipikirkan secara matang. Apabila keputusan diambil secara ceroboh dan tanpa pikir panjang, maka perusahaan dapat mengalami kerugian atau bahkan bangkrut.
Sumber :
http://www.fisipuinsgd.ac.id/blog/pengambilan-keputusan
http://hendriansdiamond.blogspot.co.id/2012/01/choice-menurut-terry-1989-faktor-faktor.html
Pengambilan keputusan adalah proses dalam manajerial,yang secara universal pengambilan keputusan merupakan alternatif dalam pemecahan masalah. Selain itu pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang manajer menjadi tolak ukur keefektifan mereka. Pengambilan keputusan (decisionmaking) diproses oleh pengambil keputusan (decision maker) yang hasilnya keputusan.
Dasar pengambilan keputusan (decision making) yang dilakukan oleh Manajer (decision maker) biasanya didasarkan atas :
a. Keyakinan
Manajer (decision maker) dalam pengambilan keputusannya didasarkan atas keyakinan bahwa
“keputusan” (decision)
inilah yang terbaik setelah diperhitungkan dan di
analisis faktor faktor internal dan eksternal serta dampak positif
dan negatif dari keputusan tersebut.
Manajer
dalam pengambilan keputusan didasarkan atas suara hati (intuisi)
nya, bersifat ilham dan perasaan perasaan (good
feeling)-nya.
Pengambilan keputusan secara
intuitif ini secara tidak sadar dipengaruhi oleh
pengetahuan
masa lalu, latihan-latihan dan latar belakang. Pengambilan
keputusan
secara intuisi biasanya mengandalkan naluri, perasaan pribadi,
kemampuan
mental, tetapi setiap situasi dihadapinya dengan sikap realistis
dan
memutuskannya menurut perasaan saja.
c.
Fakta- fakta
Pengambilan
keputusan didasarkan atas hasil analisis data, informasi
dan
fakta – fakta, serta didukung oleh kemampuan imajinasi, pengalaman,
perspektif
yang tepat dan daya pikir untuk mengimplementasikan situasi dan
kondisi
masa depan. Keputusan (decision)
yang ditetapkan berdasarkan
fakta-fakta
ini relatif baik, rasional, dan dapat dipertanggungjawabkan
serta
bisa diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi.
d.
Pengalaman
Manajer
dalam pengambilan keputusannya didasarkan pada pengalamannya dan
pengalaman pihak-pihak lain. Pengalaman sangat berharga, memberikan
petunjuk dan memberikan jawaban atas pertanyaan “apa yang harus
dilakukan dalam situasi dan kondisi seperti ini?”.
e.
Kekuasaan
Decision
maker
dalam pengambilan keputusan (decision
making)
harus berpedoman atas kekuasaan (authority)
yang dimilikinya, supaya keputusan itu sah dan legal untuk
diberlakukan. Hal ini didasarkan karena authority
merupakan dasar hukum untuk bertindak dan berbuat sesuatu.
JENIS-JENIS KEPUTUSAN ORGANISASI
Jenis keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut. Bagian mana organisasi harus dilibatkan dalam mengambil keputusan, dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut difokuskan. Secara garis besar, keputusan digolongkan ke dalam keputusan rutin dan keputusan yang tidak rutin. keputusan rutin adalah keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang, dan biasanya telah dikembangkan cara tertentu untuk mengendalikannya. Keputusan tidak rutin adalah keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.
Di sisi lain, ada pula pembagian jenis keputusan berdasarkan pihak pengambil keputusan, yaitu:
-
Keputusan Strategis
Setiap organisasi melahirkan berbagai kebijakan
atau keputusan organisasional. Kebijakan dan arah organisasi
merupakan keputusan strategis. Kebijakan dan arah yang dimaksud
adalah keputusan-keputusan apasaja yang telah diambil dalam
organisasi yang membawa organisasi tersebut mencapai arah tujuan
bersama dalam organisasi.
-
Keputusan Operasional
Adapun keputusan organisasional menyangkut
pengelolaan organisasi sehari-hari. Keputusan operasional sangat
menentukan efektivitas keputusan strategis yang dimabil oleh para
manajer puncak (Drummond, 1995). Keputusan operasional ini dilakukan
untuk menjalankan kegiatan organisasi sehari-hari atau dilakukan
dalam rutinitas organisasi demi berjalannya organisasi tersebut.
-
Keputusan yang diprogramkan (program decision)
Keputusan ini merupakan keputusan yang berulang
dan telah ditentukan sebelumnya, dalam keputusan terprogram prosedur
dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami
organisasi. Keputusan terprogram memiliki struktur yang baik karena
pada umumnya kriteria bagaimana suatu kinerja diukur sudah jelas,
informasi mengenai kinerja saat ini tersedia dengan baik, terdapat
banyak alternatif keputusan, dan tingkat kepastian relatif yang
tinggi. Tingkat kepastian relatif adalah perbandingan tingkat
keberberhasilan antara 2 alternatif atau lebih. Keputusan ini
merupakan keputusan yang baik karena tedapat langkah-langkah
pengambilan keputusan yang tertata sehingga dapat memudahkan dalam
pengambilan keputusan.
-
Keputusan yang tidak diprogramkan (non-programmed decision)
Keputusan ini belum ditetapkan sebelumnya dan pada
keputusan tidak terprogram tidak ada prosedur baku yang dapat
digunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Keputusan ini dilakukan
ketika organisasi menemui masalah yang belum pernah mereka alami
sebelumnya, sehingga organisasi tidak dapat memutuskan bagaimana
merespon permasalahan tersebut, sehingga terdapat ketidakpastian
apakah solusi yang diputuskan dapat menyelesaikan permasalahan atau
tidak, akibatnya keputusan tidak terprogram menghasilkan lebih
sedikit alternatif keputusan dibandingkan dengan keputusan terprogram
selain itu tingginya kompleksitas dan ketidakpastian keputusan tidak
terprogram pada umumnya melibatkan perencanaan strategik. Jadi
keputusan ini muncul dikarenakan adanya masalah baru yang belum
pernah terjadi atau belum terdapat pengalaman terhadap masalah
tersebut.
-
Gaya direktif
Pembuat keputusan gaya direktif mempunyai
toleransi rendah pada ambiguitas, dan berorientasi pada tugas dan
masalah teknis. Pembuat keputusan ini cenderung lebih efisien, logis,
pragmatis dan sistematis dalam memecahkan masalah. Pembuat keputusan
direktif juga berfokus pada fakta dan menyelesaikan segala sesuatu
dengan cepat. Mereka berorientasi pada tindakan, cenderung mempunyai
fokus jangka pendek, suka menggunakan kekuasaan, ingin mengontrol,
dan segan menampilkan gaya kepemimpinan otokratis. Keputusan ini
diambil dengan tujuan menyelesaikan masalah secepat mungkin dan
seefektif mungkin dan cenderung berlangsung dalam jangka pendek.
-
Gaya analitik
Pembuat keputusan gaya analitik mempunyai
toleransi yang tinggi untuk ambiguitas dan tugas yang kuat serta
orientasi teknis. Jenis ini suka menganalisis situasi pada
kenyataannya, mereka cenderung terlalu menganalisis sesuatu. Mereka
mengevaluasi lebih banyak informasi dan alternatif darpada pembuat
keputusan direktif. Mereka juga memerlukan waktu lama untuk mengambil
kepuputusan mereka merespons situasi baru atau tidak menentu dengan
baik. Mereka juga cenderung mempunyai gaya kepemimpinan otokratis.
Keputusan dengan gaya ini diambil dengan sebelumnya menganalisis
informasi yang ada mengenai masalah tersebut secara mendalam supaya
keputusan yang akan diambil tepat walaupun dalam proses analisisnya
membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil yang
maksimal.
-
Gaya konseptual
Pembuat keputusan gaya konseptual mempunyai
toleransi tinggi untuk ambiguitas, orang yang kuat dan peduli pada
lingkungan sosial. Mereka berpandangan luas dalam memecahkan masalah
dan suka mempertimbangkan banyak pilihan dan kemungkinan masa
mendatang. Pembuat keputusan ini membahas sesuatu dengan orang
sebanyak mungkin untuk mendapat sejumlah informasi dan kemudian
mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan. Pembuat keputusan
konseptual juga berani mengambil risiko dan cenderung bagus dalam
menemukan solusi yang kreatif atas masalah. Akan tetapi, pada saat
bersamaan, mereka dapat membantu mengembangkan pendekatan idealistis
dan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan. Dalam keputusan ini
tersedia banyak pilihan keputusan yang dapat diambil sehingga
memudahkan proses pengambilan keputusan.
-
Gaya perilaku
Pembuat keputusan gaya perilaku ditandai dengan
toleransi ambiguitas yang rendah, orang yang kuat dan peduli
lingkungan sosial. Pembuat keputusan cenderung bekerja dengan baik
dengan orang lain dan menyukai situasi keterbukaan dalam pertukaran
pendapat. Mereka cenderung menerima saran, sportif dan bersahabat,
dan menyukai informasi verbal daripada tulisan. Mereka cenderung
menghindari konflik dan sepenuhnya peduli dengan kebahagiaan orang
lain. Akibatnya, pembuat keputusan mempunyai kesulitan untuk berkata
‘tidak’ kepada orang lain, dan mereka tidak membuat keputusan
yang tegas, terutama saat hasil keputusan akan membuat orang sedih.
Pada keputusan ini menitik beratkan pengambilan keputusan dengan
perasaan dimana keputusan ini menghormati berbagai aspirasi yang ada
dalam proses pengambilan keputusan.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
- Fisik
- Emosional
- Rasional
- Praktikal
- Interpersonal
- Struktural
IMPLIKASI MANAJERIAL PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan sangat penting dalam proses manajerial perusahaan. Setiap langkah yang diambil perusahaan merupakan hasil dari pengambilan keputusan yang telah dipikirkan secara matang. Apabila keputusan diambil secara ceroboh dan tanpa pikir panjang, maka perusahaan dapat mengalami kerugian atau bahkan bangkrut.
Sumber :
http://www.fisipuinsgd.ac.id/blog/pengambilan-keputusan
http://hendriansdiamond.blogspot.co.id/2012/01/choice-menurut-terry-1989-faktor-faktor.html
Langganan:
Postingan (Atom)